Mar
11

Mazmur 55:23 — anda harus membaca ini
‘Teman2 adalah cara TUHAN untuk menjaga kita’
Ini ditulis oleh seorang dokter dari rumah sakit Metro Denver:
Saya dalam perjalanan pulang ke rumah dari sebuah pertemuan sore ini sekitar pk 5, terjebak dalam kemacetan di jalan di Colorado Blvd., dan tiba2 mobil saya mulai tersendat2 dan akhirnya mati - dengan susah payah saya bisa mendekati sebuah pompa bensin, lega karena saya tidak menghalangi jalan dan mencari tempat hangat untuk menunggu mobil derek.
Tapi tidak ada yang mau berhenti. Sebelum saya mulai menilpon, saya melihat seorang wanita berjalan keluar dari sebuah minimart, dan ia terpeleset di jalan es dan jatuh didekat pompa bensin, saya bergegas ke ibu ini untuk melihat apakah ia baik2 saja.
Ketika saya tiba disana, terlihat bahwa ia sedang tersedu2 lebih karena sedih bukannya karena jatuh; ia adalah seorang gadis muda yang kelihatan begitu awut2an dengan lingkaran hitam disekitar matanya. Ia menjatuhkan sesuatu ketika saya membantu ia bangun, dan saya ambil untuk diberikan ke dia. Ternyata uang logam satu nikel.
Saat itu, saya jadi menyimpulkan: wanita menangis, Suburban tua yang dipenuhi dengan barang2 dan 3 anak dibelakang (1 di tempat duduk depan) , dan meteran pompa menunjukkan $4.95.
Saya bertanya apakah semuanya baik2 saja dan apakah ia membutuhkan bantuan, dan ia lalu berkata ‘Saya tidak ingin anak saya melihat saya menangis!, jadi kita berdiri menjauh dari mobilnya kebalik pompa.
Ia bercerita bahwa ia lagi menuju ke California dan situasinya sangat sulit buat dia saat ini. Saya bertanya,
‘Apakah anda berdoa?’ Ia mundur sedikit, tapi saya yakinkan bahwa saya bukan orang gila dan berkata, ‘IA mendengar kamu, dan IA mengirim saya.’
Saya mengambil kartu kredit saya dan menggesek di card reader dari pompa tersebut sehingga mobil wanita itu bisa terisi penuh, sementara bensin nya diisi, saya berjalan ke McDonald disebelah dan membeli 2 kantung besar makanan, beberapa voucher untuk dipakai nanti, dan segelas besar kopi.
Ia memberikan makanan itu kepada anaknya, yang langsung menyambar seperti serigala kelaparan, dan kita berdiri disebelah pompa sambil memakan kentang dan berbicara sedikit.
Ia memberitahu namanya, menceritakan bahwa ia tinggal di kota Kansas. Teman laki2nya meninggalkan nya 2 bulan yang lalu sehingga ia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari2. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan bisa membayar sewa rumah bulan January nanti. Dan dalam keadan putus asa ia menilpon orang tuanya yang tidak pernah dihubunginya selama 5 tahun.
Mereka tinggal di California dan akhirnya setuju untuk dia tinggal dengan mereka sampai ia bisa mencari uang disana.
Jadi ia mengemas semua barangnya kedalam mobil milik satu2nya. Ia memberitahu anak2nya bahwa mereka akan ke California untuk merayakan natal, tetapi tidak memberitahu bahwa mereka akan tinggal disana.
Saya berikan sarung tangan saya, memberikan pelukan kecil dan membacakan sebuah doa cepat bersama dia agar ia selamat dalam perjalanannya. Ketika saya berjalan menuju mobil saya, ia bertanya, ‘Apakah, anda malaikat atau apa?’
Ini yang membuat saya terharu. Saya berkata, ‘Ibu, saat ini malaikat sangat sibuk, sehingga kadang2 TUHAN memakai orang biasa.’
Adalah sangat mengharukan untuk menjadi bagian dari keajaiban seseorang. Dan ternyata, anda sudah bisa menebak, ketika saya menuju kemobil, mobilnya bisa langsung distarter dan pulang kerumah tanpa masalah. Saya akan kebengkel besok untuk memeriksakan, tapi saya kira teknisi tidak akan mendapatkan sesuatu yang salah.
Kadang2 Malaikat terbang sangat dekat dengan anda sehingga anda bisa mendengar getaran sayapnya…
Mazmur 55:23 ‘Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka IA akan memelihara engkau. Tidak akan selama-lamanya dibiarkan nya orang benar itu goyah.’
Permintaan saya adalah pilihlah 4 orang yang anda mau TUHAN berkati, terutama pada bulan2 terakhir di 2009, dan saya memilih anda.
Tolong sebarkan ke 4 orang untuk diberkati. Ini doanya:
‘Bapa, saya memohon Bapa untuk memberkati anakku, cucuku, teman2ku, keluargaku dan orang yang membaca email ini sekarang. Tunjukkan kepada mereka pernyataan cinta dan kasihMU. Roh Kudus, Saya memohon kamu untuk membimbing jiwa mereka saat ini. Dimana ada luka, sembuhkan dan berikanlah mereka pengampunan dan kedamaianMU. Dimana ada kebingungan, lepaskanlah keyakinan yang baru melalui berkatMU, dalam nama Tuhan Yesus. Amin.’
Saya tahu saya telah memilih lebih dari 4 nama - anda juga bisa. Ketika Setan datang mengetuk pintu anda, katakan, ‘Tuhan Jesus, tolong enyahkan dia dari saya.’

Dec
12

[Terjemahan bebas oleh Sammy Lee]

The man slowly looked up. This was a woman clearly accustomed to the finer things of life. Her coat was new. [Dengan perlahan-lahan orang itu memandang keatas. Tampak olehnya seorang wanita yang pasti biasa hidup mewah. Mantel bulunya tampak baru.]

She looked like she had never missed a meal in her life. His first thought was that she wanted to make fun of him, like so many others had done before. [Kelihatan dia seperti seorang yang tidak pernah kelaparan seumur hidupnya. Sekilas pada benaknya dia terpikir bahwa tentu wanita itu akan mengolok-olok kepadanya seperti yang sering dilakukan banyak mereka sebelumnya.]

“Leave me alone,” he growled… To his amazement,the woman continued standing. She was smiling – her even white teeth displayed in dazzling rows. [“Tinggalkan aku sendirian,” gumamnya dengan marah… Tapi dia merasa heran karena wanita itu tetap berdiri disitu. Dia tersenyum – sehingga sebaris giginya yang putih rata tampak berkilauan.]

“Are you hungry?” she asked. “No,” he answered sarcastically. “I’ve just come from dining with the president.. Now go away.” [”Apakah anda lapar?” dia bertanya.
“Tidak,” jawabnya dengan penuh ejekan. ”Saya baru saja selesai makan malam dengan President USA ... Nah, pergilah kesana.”]

The woman’s smile became even broader. [Senyuman dari wanita itu menjadi lebih lebar.]

Suddenly the man felt a gentle hand under his arm.”What are you doing, lady?” the man asked angrily. “I said to leave me alone..”
[Tiba-tiba orang itu merasa tangan yang lemah lembut mencoba mengangkatnya untuk berdiri. “Nyonya, apa yang kau lakukan?” orang itu bertanya dengan marah. ”Aku sudah bilang, biarkan aku sendirian.”]

Just then a policeman came up. “Is there any problem, ma’am?” he asked.. [Pada saat itu seorang polisi mendekati. “Ada masalah apa, nyonya?” dia bertanya.. ]

“No problem here, officer,” the woman answered… “I’m just trying to get this man to his feet. Will you help me?” [Tidak ada masalah sama sekali, pak,” jawab perempuan itu. “Saya hanya berusaha mengangkat orang ini berdiri pada kakinya. Bolehkah anda menolong saya?”]

The officer scratched his head. “That’s old Jack. He’s been a fixture around here for a couple of years.. What do you want with him?” [Polisi itu menggaruk-garuk kepalanya.. “Itu adalah si Jack tua. Dia sudah beberapa tahun lamanya bergelandangan disini. Anda mau bikin apa kepadanya?”]

“See that cafeteria over there?” she asked. “I’m going to get him something to eat and get him out of the cold for awhile.” [“Anda lihat cafeteria itu disana?” dia bertanya. ”Saya mau memberikan makanan kepadanya dan membawa dia menghindar dari hawa yang dingin ini untuk sebentar.”]

“Are you crazy, lady?” the homeless man resisted. “I don’t want to go in there!” Then he felt strong hands grab his other arm and lift him up. [“Apakah anda sudah gila, nyonya?” orang yang gelandangan itu menolak tanpa bergeming. “Aku tidak mau pergi kesana!” Pada saat itu merasakan tangan-tangan yang kuat memegang lengannya yang sebelah lagi dan mengangkat dia berdiri pada kakinya.]

“Let me go, officer. I didn’t do anything..” [”Biarkan aku pergi, pak polisi. Aku tidak berbuat salah apa pun..”]

“This is a good deal for you, Jack,” the officer answered. “Don’t blow it. [“Ini adalah perbuatan baik untukmu, Jack,” jawab polisi itu. “Jangan sia-siakan itu, kawan.”]

“Finally, and with some difficulty, the woman and the police officer got Jack into the cafeteria and sat him at a table in a
remote corner. It was the middle of the morning, so most of the breakfast crowd had already left and the lunch bunch had not yet arrived. [Akhirnya dan dengan susah payah, wanita dan polisi itu berhasil membawa Jack kedalam cafetaria dan mendudukkan dia disamping meja yang berada disudut. Hari sudah mulai larut, jadi kebanyakan orang yang makan pagi sudah pergi dan mereka langganan untuk makan siang masih belum tiba.]

The manager strode across the cafeteria and stood by his table. “What’s going on here, officer?” he asked.”What is all this, is this man in trouble?” [Manager cafeteria itu berjalan mendekati dan berdiri disamping meja itu. ”Ada apa ini, pak polisi?” dia bertanya.. “Apa artinya ini, apakah orang ini membuat masalah?”]

“This lady brought this man in here to be fed,”the policeman answered. [Nyonya ini telah membawa orang ini untuk diberikan makan disini,” jawab polisi itu.

"Not in here!" the manager replied angrily. "Having a person like that here is bad for business." [”Tidak ditempat ini!” jawab manager itu dengan marah. ”Membiarkan orang seperti ini berada disini akan membawa malapetaka kepada dagang kami.” ]

Old Jack smiled a toothless grin. “See, lady. I told you so. Now if you’ll let me go. I didn’t want to come here in the first place.” [Jack tua tersenyum menyeringai dengan giginya yang ompong. “Kau lihat itu, nyonya. Saya kan sudah katakan. Nah, sekarang biarkanlah akau bergi. Saya memang dari semula tidak mau datang kemari.]

The woman turned to the cafeteria manager and smiled.”Sir, are you familiar with Eddy and Associates,the banking firm down the street?” [Wanita itu berpaling kepada manager cafeteria itu sambil tersenyum. “Pak, kenalkah anda kepada Eddy and Associates, perusahaan perbankan yang ada disudut jalan itu?”]

“Of course I am,” the manager answered impatiently. “They hold their weekly meetings in one of my banquet rooms..” [“Tentu saja aku kenal mereka, setiap minggu mereka mengadakan pertemuan rutin mereka di salah satu ruangan pesta VIP ku untuk santap malam.]

“And do you make a goodly amount of money providing food at these weekly meetings?” [“Dan anda mendapat keuntungan yang lumayan menyediakan makanan untuk pertemuan mingguan ini?”]

“What business is that of yours?” [Apakah urusanmu dengan hal itu?”]

“I, sir, am Penelope Eddy, president and CEO of the company.” [”Saya, Pak, adalah Penelope Eddy, President dan CEO dari perusahaan itu.”]

“Oh..” [”Oh..”]

The woman smiled again.. “I thought that might make a difference.” [Wanita itu tersenyum lagi..”Saya memang berpikir bahwa itu mungkin bisa membuat perubahan dalam sikap anda.”]

She glanced at the cop who was busy stifling a laugh.”Would you like to join us in a cup of coffee and a meal, officer?” [Dia melirik kepada polisi yang sedang berusaha menyembunyikan tertawanya. “Pak polisi, apakah anda mau ikut serta dengan kami menikmati secangkir kopi dan sarapan?”]

“No thanks, ma’am,” the officer replied.
“I’m on duty.” [“Oh, tidak, terima kasih, nyonya,” jawab polisi itu. “Saya sedang dalam tugas.”]

“Then, perhaps, a cup of coffee to go?”
“Yes, ma’am.. That would be very nice.” [“Nah, kalau begitu, mungkin secangkir kopi untuk ada bawa pergi?” “Baiklah, nyonya.. Itu sangat baik, terima kasih.”]

The cafeteria manager turned on his heel.. “I’ll get your coffee for you right away, officer.” [Manager cafeteria itu langsung berbalik dan berkata..”Saya akan mengambil kopinya untuk anda, pak polisi.”]

The officer watched him walk away…. “You certainly put him in his place,” he said.
[Polisi itu memandang manager itu berjalan pergi..” ”Anda sudah menyadarkan dia akan posisinya dengan baik,” katanya.

"That was not my intent... Believe it or not, I have a reason for all this." [Itu bukanlah tujuan saya sebenarnya… Tapi anda percaya atau tidak saya mempunyai alasan untuk melakukan semua ini.”]

She sat down at the table across from her amazed dinner guest. She stared at him intently. [Dia duduk dipinggir meja diseberang tamunya yang melongo keheranan. Tamunya itu sekarang menerawang mukanya dengan penuh perhatian.]

“Jack, do you remember me?” [”Jack, apakah anda masih ingat kepada saya?”]

Old Jack searched her face with his old, rheumy eyes.”I think so — I mean you do look familiar.” [Si Jack tua memandang wajah wanita itu dengan matanya yang mulai lamur dan berkaca-kaca dengan linangan air mata. “Saya rasa begitu – maksud saya, wajah anda memang kelihatan saya kenal.”]

“I’m a little older perhaps,” she said.
“Maybe I’ve even filled out more than in my
younger days when you worked here, and I came through that very door, cold and hungry.” [“Mungkin aku sekarang kelihatan lebih tua,” dia berkata. “Mungkin usiaku sudah lebih dari dua kali lipat sejak masa mudaku ketika engkau bekerja disini, dan aku berjalan masuk melalui pintu, sedang kedinginan dan lapar.”

"Ma'am?" the officer said questioningly. He
couldn't believe that such a magnificently turned out woman could ever have been hungry.
[“Bagaimana, nyonya?” polisi itu bertanya keheranan. Dia tidak bisa percaya bahwa seorang wanita yang begitu cemerlang tampangnya pernah mengalami lapar...”

"I was just out of college," the woman began.
"I had come to the city looking for a job, but I couldn't find anything. Finally I was down to my last few cents and had been kicked out of my apartment... I walked the streets for days. It was February and I was
cold and nearly starving. I saw this place and walked in on the off chance that I could
get something to eat.." [“Saya baru saja tamat dari Perguruan Tinggi,” wanita itu memulai kisahnya. “Saya sudah datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan, tapi tidak berhasil mendapatkan pekerjaan apa pun. Akhirnya uangku sisa beberapa sen saja, dan saya telah diusir dari apartmentku. .. Saya berjalan kesana kemari gelandangan dijalan untuk beberapa hari. Saat itu bulan Pebruari dan saya sedang sangat kedinginan dan hampir mati kelaparan. Saya melihat tempat ini dan berjalan masuk dengan harapan mudah-mudahan bisa memperoleh sesuatu yang dapat kumakan.”

Jack lit up with a smile. "Now I remember," he said. "I was behind the serving counter. You came up and asked me if you could work for something to eat. I said that it was against company policy." [Si Jack mulai tersenyum wajahnya. “Sekarang saya ingat,” dia berkata. “Saya waktu itu berdiri dibalik meja sana sedang melayani langganan. Anda mendekati saya dan bertanya kalau anda bisa melakukan apa saja dengan upah sesuatu untuk dimakan. Saya berkata bahwa itu adalah melawan peraturan dari perusahaan ini.]

“I know,” the woman continued. “Then you made me the biggest roast beef sandwich that I had ever seen, gave me a cup of coffee, and told me to go over to a corner table and enjoy it. I was afraid that you would get into trouble. Then, when I looked over and saw you put the price of my food in the cash register, I knew then that everything
would be all right…” [“Saya tahu,” wanita itu melanjutkan. “Kemudian anda membuatkan saya sandwich roast beef yang paling besar yang pernah saya lihat seumur hidup, dan memberikan saya secangkir kopi, dan menyuruh saya untuk pergi duduk disatu sudut cafeteria ini dan menikmatinya. Saya takut waktu itu anda akan mengalami kesusahan karena saya. Kemudian saya melihat anda memasukkan uang dan mencetak harga makanan saya itu di mesin hitung, dan saya tahu bahwa semuanya beres.]

“So you started your own business?” Old Jack
said. [Jadi anda memulaikan perusahaan anda sendiri?” kata si Jack tua.. ]

“I got a job that very afternoon. I worked my way up. [Saya mendapat pekerjaan pada sore hari itu juga. Saya mulai bekerja dari bawah dan makin meningkat.]

Eventually I started my own business that, with the help of God, prospered..” She opened her purse and pulled out a business card. [Akhirnya saya mulaikan perusahaan saya sendiri, dan dengan pertolongan Tuhan, saya berhasil..” Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama.]

“When you are finished here, I want you to pay a visit to a Mr.Lyons. He’s the personnel director of my company.
I’ll go talk to him now and I’m certain
he’ll find something for you to do around the office.” [“Sehabis anda makan, saya mau anda pergi menemui Mr.Lyons. Dia adalah direktur personil dari perusahaan saya. Saya akan berbicara dengan dia sekarang, dan saya merasa pasti bahwa dia akan menemukan suatu pekerjaan yang anda dapa lakukan dikantor..”]

She smiled. “I think he might even find the funds to give you a little advance so that you can buy some clothes and get a place to live until you get on your feet. If you ever need anything, my door is always open to you.” [Dia tersenyum. “Saya pikir dia juga akan memberikan kepada anda sedikit uang panjar supaya anda bisa membeli pakaian dan mendapat tempat tinggal sampai anda bisa mandiri. Kalau anda memerlukan apa saja dikemudian hari, pintu rumah saya selalu terbuka bagi anda.

There were tears in the old man's eyes. "How can I ever thank you?" he asked.
[Air mata berlinang-linang diwajah orang tua itu. ”Bagaimana saya akan bisa berterima kasih secukupnya kepada anda?” dia bertanya.]

“Don’t thank me,” the woman answered.
“To God goes the glory. He led me to you.”
[“Jangan berterima kasih kepadaku,” jawab wanita itu. “Bagi Allah segala kemuliaan. Dialah yang telah menuntun saya kepada anda,”]

Outside the cafeteria, the officer and the woman paused at the entrance before going their separate ways..”Thank you for your help officer,” she said. [Diluar cafeteria itu, polisi dan wanita itu berdiri sekejap didepan pintu sebelum mereka berpisah…” Terima kasih untuk pertolongan anda, pak polisi” dia berkata.]

“On the contrary, Ms. Eddy,” he answered.
“Thank you. I saw a miracle today, something that I will never forget, And thank you for
the coffee.” [“ Sebaliknya , Ny .. Eddy,” dia menjawab. “Terima kasih kepada anda. Saya menyaksikan sebuah mujizat hari ini, sesuatu yang saya tidak akan pernah melupakannya seumur hidup.. Dan terima kasih untuk kopi itu.]

Have a Wonderful Day. May God Bless You always and don’t forget that when you “cast your bread upon the waters,” you never know how it will be returned to you. God is so big He can cover the whole world with his
Love and so small He can curl up inside your heart.. [Semoga anda menghadapi hari yang gemilang. Kiranya Tuhan memberkati anda selalu dan jangan pernah lupa bahwa kalau anda “menaburkan roti anda diatas air,” anda tidak tahu bagaimana itu akan kembali kepada anda kemudian. Tuhan itu begitu besar sehingga dia dapat menutupi seluruh bumi ini dengan kasihNya, dan sebaliknya Dia begitu kecil sehingga bisa masuk dan bersemayam didalam hatimu.]

When God leads you to the edge of the cliff, trust Him fully and let go. Only 1 of 2 things will happen, either He’ll catch you
when you fall, or He’ll teach you how to fly! [Apabila Tuhan Allah membimbing anda kesebuah tebing jurang, bergantunglah sepenuhnya kepadaNya dan jangan menahankan apa pun juga. Hanya ada dua hal yang akan terjadi, kalau Dia tidak menangkap anda, maka Dia akan mengajar anda bagaimana untuk terbang!]

The power of one sentence! God is going to shift things around for you today and let things work in your favor. If you believe, send it. If you don’t believe, delete it.
[ Ada kuasa didalam satu kalimat! Tuhan akan mengatur semua perkara bagi anda hari ini dan membiarkan segala sesuatunya bekerja untuk kebaikan anda.. Kalau anda percaya akan hal ini. Kirimkanlah ini cerita ini kepada orang lain. Kalau anda tidak percaya, silahkan didelete saja. Ngak usah repot!]

God closes doors no man can open & God opens doors no man can close..If you need God to open some doors for you…send this on.
[Tuhan menutup pintu yang tidak bisa sibuka oleh siapapun, dan Tuhan membukakan pintu yang tidak bisa ditutup oleh siapapun… Kalau anda memerlukan Tuhan untuk membuka pintu-pintu bagimu…kirimkanlah ini kepada orang lain..]

Have a blessed day and remember to be a blessing…. [Kiranya anda menjalani satu hari yang penuh berkat dan ingatlah untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain…]

“The Task Ahead of Me is Never as Great as the Power Behind Me!!” [“Tugas yang ada didepan kita tidak akan pernah sama besarnya dengan kuasa yang ada dibelakang kita!!—Author Unknown.]

[There is no such word as “impossible” in God’s dictionary. –Ed..., Sammy Lee (Didalam kamus Tuhan Allah tidak ada kata “mustahil”.—Red., SL.)]

Dec
09

Kesaksian penginjilan: “Anda pun bisa!”KISAH TENTANG ORANG TUA YANG INGIN KE KAMAR MANDI

Apa syaratnya untuk memberitakan berita keselamatan dalam Tuhan Yesus? Tentu bukan tubuh yang selalu sehat dan kuat. Juga bukan kemampuan berkomunikasi atau pembuktian intelektual. Kesehatan, kemampuan berkomunikasi, dan kepekaan terhadap kebudayaan memang penting, namun apakah yang dipakai Tuhan untuk membuka hati kepada Injil?

Kalau anda bertanya padaku, aku hanya membopong pria tua itu ke kamar mandi. Itu saja. Anda pun bisa!

Ketika aku melayani di unit Mobilisasi Operasional di India tahun 1967, aku pernah menghabiskan waktu berbulan-bulan dirawat di sebuah sanitarium TBC. Selama berada di sanitarium, aku berusaha membagikan traktat kepada para pasien, dokter, dan perawat, tetapi tidak ada satupun yang bersedia menerimanya.
Mereka tidak menyukaiku sebagai orang Amerika. Mereka selalu menganggap orang Amerika sebagai orang kaya, apalagi aku dirawat di sanitarium non-pemerintah.

Melayani di Mobilisasi Operasional, membuatku sama miskinnya dengan mereka, andai saja mereka tahu! Aku begitu patah semangat karena sakit dan semua orang tampaknya marah kepadaku. Aku merasa gagal menjadi saksi yang baik karena keterbatasan bahasa, dan tidak seorangpun sudi menerima traktat atau Injil Yohanes dari tanganku.
Pada beberapa malam pertama, aku selalu terbangun sekitar jam dua pagi dan terbatuk-batuk. Subuh berikutnya, hal yang sama terjadi, aku kembali terjaga dan terus terbatuk-batuk,lalu kulihat salah satu pasien tua di kasur sebelah (ia tentu jauh lebih parah dari yang lain) mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Ia duduk di sisi tempat tidur, berjuang untuk berdiri tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit. Ia kembali berbaring. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ia lakukan, mengapa ia mencoba untuk berdiri tetapi kemudian tidur lagi. Setiap kali ia mencoba bangkit, ia gagal. Ia kembali berbaring dengan nafas tersengal-sengal. Lalu kudengar ia mulai menangis dengan suara pelan.

Keesokan paginya barulah aku mengerti, apa yang berusaha dilakukannya pada malam itu. Ia hanya ingin bangkit untuk berjalan ke kamar mandi! Karena kondisinya yang begitu lemah, ia tidak dapat melakukannya, maka ia mengompol di kasur.Pagi itu, kamar pasien begitu bau pesing dan bau kotoran. Hampir semua pasien lain mengata-ngatai orang tua itu karena baunya yang menjijikkan. Para perawat menjadi begitu emosi dan jengkel karena mereka harus mencuci seprei yang basah dan kotor. Perawat menggeser tubuh bapak tua itu dengan kasar untuk mengambil seprei. Salah satu perawat lainnya bahkan begitu marah sampai menamparnya. Karena bapak itu begitu malu, ia hanya menggulung badannya seperti bola dan terus menangis.

Pada malam berikutnya, juga sekitar jam dua pagi, kembali aku terjaga dan batuk-batuk. Aku memperhatikan bapak yang tidur di kasur seberang sedang duduk dan kembali berusaha pergi ke kamar mandi. Namun karena kondisi badannya begitu lemah ia kembali tergeletak di atas kasur, seperti malam sebelumnya.

Sama seperti yang lain, aku juga tidak suka dengan bau ompol. Sebenarnya aku tidak ingin mencampuri urusan bapak itu, karena aku sendiri sedang sakit. Namun tanpa kusadari, dan tanpa mengerti alasannya, aku bangun dari tempat tidur dan pergi menghampiri orang tua itu. Ia masih menangis sesenggukan dan tidak mendengar langkahku yang datang mendekat. Ketika aku membungkukkan badan dan menyentuh pundaknya, matanya terbelalak dengan pandangan yang penuh tanda tanya dan ketakutan. Aku hanya tersenyum, merangkul lehernya dengan tanganku yang satu dan menyangga kedua kakinya dengan tanganku yang lain, dan kemudian menggendongnya.

Walaupun dalam keadaan sakit dan lemah, aku tentu jauh lebih kuat dibanding si bapak tua. Badannya sangat ringan karena usianya yang lanjut dan TBC yang sudah lama dideritanya. Aku terus menggendongnya menuruni lorong selasar rumah sakit menuju ke kamar mandi. Ruang kamar mandi itu begitu sempit, kotor, dan berbau pesing luar biasa. Hanya ada satu lobang kecil di pojok lantai. Aku berdiri di belakangnya dengan kedua tanganku memeganginya dengan erat di bawah kedua lengannya. Dengan demikian, ia dapat mengurusi sendiri celananya dan melakukan buang air kecil. Setelah selesai, aku kembali menggendongnya dan membawanya kembali ke tempat tidur. Ketika aku sedang membaringkannya kembali, kepalaku menjadi begitu dekat dengan wajahnya. Tanpa kuduga ia menciumku tepat di pipi. Ia tersenyum dan tidak berkata apa-apa, sepertinya ia ingin mengucapkan terima kasih.Sungguh ajaib yang terjadi pada keesokan harinya. Salah satu pasien di bangsal yang tidak kukenal membangunkan diriku sekitar jam empat pagi dengan secangkir teh India yang sungguh nikmat. Ia kemudian membuat gerakan-gerakan isyarat dengan kedua tangannya (ia tidak bisa bahasa Inggris). Ia memberi isyarat bahwa ia ingin meminta sebuah traktat. Ketika matahari terbit, beberapa pasien lainnya mulai mendekatiku, memberi isyarat bahwa mereka juga ingin meminta traktat.Sungguh heran, berbulan-bulan aku berjuang untuk membagikannya, tapi gagal. Pagi itu, para pasien sanitarium berdatangan untuk meminta traktat. Sepanjang hari banyak orang mendatangiku untuk meminta traktat dan Injil Yohanes. Bukan hanya pasien yang berdatangan, tetapi juga perawat, staf rumah sakit, dokter, dan hampir semua yang berada di sanitarium itu. Akhirnya semua orang di rumah sakit itu telah memiliki traktat atau Injil Yohanes. Selang beberapa hari kemudian, beberapa orang menyatakan bahwa mereka telah percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat mereka. Mereka membaca traktat dan Injil Yohanes yang kuberikan dan memutuskan untuk percaya kepada Tuhan Yesus.Apa syaratnya untuk memberitakan berita keselamatan dalam Tuhan Yesus? Tentu bukan tubuh yang selalu sehat dan kuat. Juga bukan kemampuan berkomunikasi atau pembuktian intelektual. Kesehatan, kemampuan berkomunikasi, dan kepekaan terhadap kebudayaan memang penting, namun apakah yang dipakai Tuhan untuk membuka hati kepada Injil?

Kalau anda bertanya padaku, aku hanya membopong pria tua itu ke kamar mandi.

Itu saja. Anda pun bisa.

Aug
12

Louise Redden, seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket.
Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang.
Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan.

John Longhouse, si pemilik supermarket,mengusir dia keluar.

Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terusmenceritakan tentang keluarganya.

“Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang.”

John Longhouse tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut.
“Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi,” alasannya.

Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi.

Dia mendekati keduanya dan berkata : “Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini.”

Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, “Tidak perlu,Pak. Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis.

Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja ?”
” Ya, Pak. Ini,” katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.” Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut.”

Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Louise menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan.

Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah. Ia menatap Pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil,
“Aku tidak percaya pada yang aku lihat.”

Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum.

Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain.

Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.

Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa.

Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si ibu kumal tadi.

Dan ia-pun terbelalak.

Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek :
” Tuhan, Engkau tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu.”

Si Pemilik Toko terdiam. Si Ibu, Louise, berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya.

Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang 50 dollar kepadanya.

Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak.

Ternyata memang hanya Tuhan yang tahu bobot sebuah doa.

Jul
29

Saya bersenggolan dengan seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat.
“Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya.
Ia berkata, “Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda.”
Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami
berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita
memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.

Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki
saya berdiri diam-diam di samping saya.
Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata
saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur.
Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika
saya berbaring di tempat tidur,
dengan halus Tuhan berbicara padaku,

“Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika
kesopanan kamu gunakan,
tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan
sewenang-wenang.
Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga
dekat pintu.” “Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu;
merah muda, kuning dan biru.
Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan
ia buat bagimu,
dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu.” Seketika aku
merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.

Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat
tidurnya, “Bangun, nak,
bangun,” kataku. “Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?”
Ia tersenyum, ” Aku menemukannya jatuh dari pohon. ”
“Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu.
Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.”
Aku berkata, “Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu;
Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi.”
Si kecilku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu. ”
Aku pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar
menyukai bunga-bunga ini,
apalagi yang biru.”

Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana
kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita
dalam hitungan hari?
Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama
sisa hidup mereka. Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam
kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri,
suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?

Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas?
Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?

Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou.

Jul
29

Cerita ini terjadi di kota   New York pada pertengahan 1930an ketika

AS mengalami depresi ekonomi. Saat itu hari amat dingin. Di seluruh

penjuru kota , orang-orang miskin nyaris kelaparan.

Di suatu ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk menyimak

tuntutan terhadap seorang wanita yang dituduh mencuri septong roti.

Wanita itu berdalih bahwa anak perempuannya sakit, cucunya kelaparan, dan karena suaminya telah meninggalkan dirinya. Tetap saja penjaga toko yang rotinya dicuri menolak untuk membatalkan tuntutan. Ia memaksa bahwa wanita itu harus dihukum untuk menjadi contoh bagi yang lainnya.

Hakim itu menghela nafasnya. Sebenarnya ia enggan menghakimi wanita ini. Tetapi ia tidak punya pilihan lain. “Maafkan saya,” katanya sambil memandang wanita itu. “Saya tidak bisa membuat pengecualian. Hukum adalah hukum, jadi Anda harus dihukum. Saya mendenda kamu sepuluh dolar, dan jika kamu tidak mampu membayarnya maka kamu harus masuk penjara sepuluh hari.”

Wanita itu tertunduk, hatinya remuk. Tanpa disadarinya, sang hakim mencopot topinya, mengambil uang sepuluh dolar dari dompetnya, dan meletakkan uang itu dalam topinya. Ia berkata kepada hadirin:

“Saya juga mendenda masing-masing orang yang hadir di ruang sidang ini sebesar lima puluh sen karena tinggal dan hidup di kota ini dan  membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk menyelamatkan cucunya dari kelaparan. Tuan Bailiff, tolong kumpulkan dendanya dalam topi ini lalu berikan kepada terdakwa.”

Akhir cerita, wanita itu meninggalkan ruang sidang sambil mengantongi empat puluh tujuh dolar dan lima puluh sen, termasuk di dalamnya lima puluh sen yang dibayarkan oleh penjaga toko yang malu karena telah menuntutnya.

Tepuk tangan meriah dari kumpulan penjahat kecil, polisi New York , dan staf pengadilan yang berada dalam ruangan sidang mengiringi kepergian wanita itu.

Jul
29

Once upon a time there was a girl who had four boyfriends.

She loved the fourth boyfriend the most and adorned him with rich robes and
treated him to the finest of delicacies. She gave him nothing but the best.

She also loved the third boyfriend very much and was always showing him off
to neighboring kingdoms. However, she feared that one day he would leave her
for another.

She also loved her second boyfriend. He was her confidant and was always
kind, considerate and patient with her. Whenever this girl faced a problem,
she could confide in him, and he would help her get through the difficult
times.

The girl’s first boyfriend was a very loyal partner and had made great
contributions in maintaining her wealth and kingdom. However, she did not
love the first boyfriend Al though he loved her deeply, she hardly took
notice of him!

One day, the girl fell ill and she knew her time was short. She thought of
her luxurious life and wondered, ‘I now have four boyfriends with me, but
when I die, will I be a alone.’

Thus, she asked the fourth boyfriend, ‘I loved you the most, endowed you
with the finest clothing and showered great care over you. Now that I’m
dying, will you follow me and keep me company?
‘No way!’, replied the fourth boyfriend, and he walked away without another
word.

His answer cut like a sharp knife right into her heart.

The sad girl then asked the third boyfriend, ‘I loved you all my life. Now
that I’m dying, will you follow me and keep me company?’ ‘No!’, replied the
third boyfriend. ‘Life is too good! When you die, I’m going to marry someone
else!’ Her heart sank and turned cold

She then asked the second boyfriend, ‘I have always turned to you for help
and you’ve always been there for me. When I die, will you follow me and keep
me company?’

‘I’m sorry, I can’t help you out this time!’, replied the second boyfriend.
‘At the very most, I can only walk with you to your grave.’
His answer struck her like a bolt of lightning, and the girl was devastated.

Then a voice called out: ‘I’ll go with you. I’ll follow you no matter where
you go. ‘ The girl looked up, and there was her first boyfriend. He was very
skinny as he suffered from malnutrition and neglect.

Greatly grieved, the girl said, ‘I should have taken much better care of you
when I had the chance!’

In truth, you have four boyfriends in your lives:

Your fourth boyfriend is your body. No matter how much time and effort you
lavish in making it look good, it will leave you when you die.

Your third boyfriend is your possessions, status and wealth.When you die, it
will all go to others.

Your second boyfriend is your family and friends. No matter how much they
have been there for you, the furthest they can stay by you is up to the
grave.

And your first boyfriend is your spirit. Often neglected in pursuit of
wealth, power and pleasures of the world.

However, your spirit is the only thing that will follow you where ever you
go. Cultivate, strengthen and cherish it now, for it is the only part of you
that will follow you to the throne of God and continue with you throughout
Eternity.

Thought for the day: Remember, when the world pushes you to your knees,
you’re in the perfect position to pray.

Jul
29

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Tuhan kita benar-benar ajaib dan luarbiasa. “Apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah” tampaknya firman itu bukan hanya sekedar cerita dongeng isapan jempol belaka, tetapi firman itu telah menjadi kenyataan dan rhema di dalam hidup saya pribadi melalui kesaksian kisah nyata (‘true story’) dari mujizat kesembuhan yang benar-benar sudah terjadi di atas pesawat Merpati DC-9 tujuan Kendari-Makassar, yang ingin saya bagikan kepada semua rekan-rekan seiman di seluruh Indonesia maupun mancanegara yang telah saya posting melalui blog pribadi, beberapa milis rohani dan juga di ‘my notes’ ini, agar kesaksian ini dapat menjadi berkat dan kekuatan inspirasi bagi kita semua baik itu sanak keluarga, teman-teman dan tentunya para sahabat sekalian di dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Suatu ketika saya sedang berada di kota Kendari, Sulawesi Tenggara untuk suatu tugas pelayanan pada hari Minggu dan setelah menyelesaikan semuanya, pada keesokan harinya saya hendak kembali ke kota Makassar dengan hati penuh sukacita. Setelah melewati perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit dari kota Kendari menuju airport Wolter Monginsidi akhirnya sampailah saya disana. Seperti biasa pada umumnya saya harus check in terlebih dahulu di counter Merpati untuk tujuan Makassar dan ketika itu saya diberikan no. kursi 30 (paling belakang). Sebenarnya saya ingin meminta kepada petugasnya untuk dipindahkan ke kursi yang agak depan, karena tidak biasanya saya mendapat tempat duduk yang paling belakang. Namun karena petugas bandara mengatakan bahwa semua kursi di depan dan tengah telah penuh, maka dengan agak sedikit berat hati akhirnya saya menerima keputusan tersebut. Tidak berapa lama kemudian saya masuk di ruangan tunggu penumpang untuk menunggu keberangkatan yang sedianya di jadwalkan boarding sekitar pukul 15.00 wita. Dan setelah menantikan cukup lama akhirnya samar-samar terdengar suara announcer bandara mengumumkan bahwa pesawat Merpati dengan tujuan Makassar DITUNDA keberangkatannya hingga waktu yang tidak ditentukan, dikarenakan alasan operasional. Mendengar itu secara manusiawi sontak saya kaget dan agak kecewa, tetapi sekalipun demikian saya berusaha untuk menenangkan hati saya dan tetap bersyukur kepada Tuhan, sekalipun pesawat tersebut harus delay cukup lama dari jadwal yang seharusnya dan tidak tahu sampai kapan karena belum ada keterangan yang pasti. Sementara penumpang lainnya yang mengambil jurusan yang sama pun tak kuasa menahan emosi sehingga beberapa orang di antaranya yang komplen.

Singkat cerita akhirnya setelah menunggu waktu keberangkatan yang cukup lama (+ 1 ½ jam) tanpa ada firasat apapun akhirnya announcer kembali memberitahukan bahwa pesawat Merpati tujuan Makassar akan segera diberangkatkan para penumpang diharapkan naik ke atas pesawat udara. Saya pun lantas bergegas menuju ke atas pesawat dan mencari no. kursi 30 yang paling belakang. Ketika saya duduk di kursi tersebut sepintas saya melihat diseberang tempat duduk saya di bagian belakang ada semacam kain gorden besar yang menutupi tempat itu, tetapi saya sama sekali tidak mengetahui apa yang ada di dalamnya. Saya pun berusaha untuk duduk tenang dan menikmati perjalanan saya yang cukup melelahkan hari itu. Tidak secara kebetulan disamping tempat duduk saya ada seorang pria paruh baya yang duduk dengan tatapan mata yang kosong dan kelihatannya sangat sedih. Sembari basa-basi saya bersalaman dan memperkenalkan diri saya kepada pria itu sambil saya bertanya: Apakah bapak tahu mengapa ada kain besar di sebelah sana? Kemudian pria itu menceritakan dengan nada yang datar bahwa di dalam kain besar itu ternyata ada seorang dari sanak keluarganya yang sudah koma hampir seminggu di rumah sakit Kendari akibat gegar otak dalam sebuah musibah kecelakaan maut di Kolaka karena ditabrak oleh sebuah mobil hingga orang itu terlempar beberapa meter dari atas motornya sampai-sampai tidak sadarkan diri di TKP (Tempat Kejadian Perkara). Dan sejak peristiwa naas itu sampai saat orang itu dibawa ke atas pesawat dalam keadaan koma dan lebih parahnya lagi semua dokter rumah sakit di Kendari sudah angkat tangan dan tidak bisa berbuat apa-apa menangani kondisi orang tersebut, sehingga orang itu harus dirujuk ke rumah sakit di kota Makassar untuk mendapatkan pengobatan intensif, kata pria tersebut dengan nada sedih. Mendengar penjelasan pria tersebut tiba-tiba timbullah perasaan empati dan belas kasihan di dalam hati saya terhadap kondisi pergumulan yang dihadapi pria dan orang tersebut. Kemudian saya bertanya dalam hati saya: Tuhan apakah yang harus saya lakukan? Tiba-tiba ada suatu impresi yang begitu kuat di dalam hati saya yang berkata: Otniel, Doakan dia! Namun, sebelumnya itu saya bergumul di dalam diri saya: Ah jangan-jangan ini bukan suara Tuhan. Kalau saya doakan orang itu apakah nanti sembuh atau tidak? Pertanyaan semacam itu muncul dan berkecamuk di dalam pikiran daging saya. Tetapi karena saya mau lebih taat kepada suaraNya akhirnya saya pun memberanikan diri untuk bertanya kepada pria yang duduk di sebelah saya: Maaf, kalau boleh saya tahu bapak beragama apa? Oh, saya beragama katholik, jawab pria tersebut. Kemudian saya bertanya lagi: Apakah bapak bersedia saya berdoa untuk bapak dan keluarga bapak yang sedang koma? Jawab pria itu: Ya, saya mau di doakan! Mendengar jawaban itu saya bersukacita. Namun, sebelum saya berdoa saya katakan kepada pria tersebut: Bapak, saya tidak bisa menolong anda dan keluarga bapak, saya hanya bisa mendoakan untuk kesembuhan keluarga bapak. Tetapi satu-satunya yang bisa menolong dan menyembuhkan keluarga bapak itu namanya Yesus. Maukah bapak percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat secara pribadi di dalam hidup bapak? Jikalau bapak mau, saya akan mendoakan bapak. Sepertinya Roh Kudus sudah lebih dulu menjamah hatinya, lantas pria itu berkata: Ya, saya percaya Yesus. Puji Tuhan, akhirnya saya berdoa bersama-sama dengan pria tersebut di tempat duduk masing-masing dengan doa yang sederhana. Setelah selesai berdoa sementara pesawat sudah take off, tampaknya tidak terjadi sesuatu apa-apa, namun saya pun tetap mengucap syukur kepada Tuhan karena saya telah melaksanakan apa yang Tuhan suruh saya lakukan dengan tidak berbantah-bantah.

Tidak berapa lama kemudian tiba-tiba secara tidak sadar saya melihat kain gorden penutup di seberang tempat duduk saya itu seakan-akan bergerak. Seolah-olah antara percaya dengan tidak saya pun memberitahukan kepada pria yang duduk di sebelah saya bahwa kain gorden itu bergerak. Melihat hal yang sama secepat kilat pria tersebut bangun dari tempat duduknya dan membuka kain gorden penutupnya dan ketika kain gorden itu dibuka sungguh mujizat Tuhan yang luarbiasa terjadi pada saat itu juga. Saya pun melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa orang yang tadinya terbaring diatas tempat kursi tidur dalam keadaan koma, tiba-tiba orang itu bisa bangun sendiri dan duduk di atas tempat tidurnya sementara semua tali pengikatnya sudah terlepas dan bahkan masih ada selang infus untuk oksigen terpasang di tubuhnya. Ketika melihat fakta kejadian itu pria tersebut dan beberapa pramugari yang ada lantas menatap saya dengan raut wajah yang terheran-heran dan saya pun merasakan hal yang sama. Singkat cerita ketika pesawat landing di Bandar udara Hasanuddin Makassar, sebelum turun dari pesawat saya pun menyempatkan diri untuk memberikan salam kepada pria dan orang yang sudah sembuh itu sambil menatap matanya dengan penuh kasih saya hanya katakan: Tuhan Yesus memberkati anda. Tanpa banyak berbasa-basi saya pun turun dari pesawat itu dengan suasana hati yang bercampur aduk menjadi satu antara sukacita, senang, terharu dan menangis karena melihat kuasa Tuhan yang begitu amat sangat nyata bahkan melebihi dari apapun yang dapat saya pikirkan atau rasakan pada saat itu.

Haleluya, Allah kita sungguh dahsyat luarbiasa. Dia tidak pernah mempermalukan hamba-hambaNya yang sungguh-sungguh percaya dan berserah kepadaNya. Percayalah dengan iman bahwa apa yang telah di firmankanNya itu benar-benar PASTI terjadi. MUJIZAT ITU NYATA! Apapun keadaan masalah, sakit penyakit, percobaan atau tantangan dan pergumulan hidup yang anda hadapi saat ini, percayalah Yesus lebih besar daripada masalah dan pergumulan anda. Dia terlalu mampu menolong dan menyembuhkan anda. Karena sekali lagi bagi Allah tidak ada sesuatu pun perkara yang mustahil. Terpujilah Tuhan Yesus Kristus. Segala hormat, pujian, kuasa dan kemuliaan hanya dari Dia, oleh Dia dan bagi Dialah kekal selama-lamanya. Amin

Salam Luarbiasa,

Otniel Yedidyah

Jul
29

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya.

Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

Dec
26

Suatu ketika di ruang kelas sekolah, terlihat suatu percakapan yang menarik. Seorang guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas. Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan.

“Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah disini. Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuatmu bahagia? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini?”

Murid-murid tampak saling pandang. Terdengar suara dari guru, “Ya,ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidupmu…”. Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan guru itu menunjuk pada seorang murid.

“Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui? Berbagilah
dengan teman-temanmu…”.

Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid, “Seminggu yang lalu, adalah masa yang sangat besar buatku. Orangtuaku, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang aku impikan selama ini”.

Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu. “Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu!”
Sang guru tersenyum. Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya. Maka,terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir. Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri. Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung. Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara, hingga terdengar suara dari arah belakang.

“Pak Guru..Pak, aku belum bercerita”. Rupanya, ada seorang anak dipojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya. “Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua”, ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu. “Apa hal terbesar yang kamu dapatkan?”, Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

“Keberhasilan terbesar buatku, dan juga buat keluargaku adalah..saat nama keluarga kami tercantum dalam buku telpon yang baru terbit 3 hari yang lalu”. Sesaat senyap. Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak2 mendengar cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, “Ha? aku sudah sejak lahir menemukan nama keluargaku di buku telpon. Buku Telpon? Betapa menyedihkan…hahaha”. Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, “Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam itu?”

Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan.

Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan. “Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak…”. Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara. “Ya. Memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah aku dapatkan. Dulu, Ayahku bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi”.

Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan.

“Tapi, kini Ayah telah berubah. Dia telah mau menjadi Ayah yang baik buat keluargaku. Sayang, semua itu tidak butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja.
Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Ayahku. Dan kini, Ayah berhasil. Bukan hanya itu, Ayah juga membeli sebuah rumah kecil buat kami. Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi”.

“Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluargamu ada di buku telpon? Itu artinya, aku tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan ayah untuk terus berlari. Itu artinya, aku tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang aku sayangi. Itu juga berarti, aku tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang dingin. Dan itu artinya, aku, dan juga keluargaku, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya”.

Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir. “Itu artinya,
akan ada harapan-harapan baru yang aku dapatkan nanti…”.

Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk. Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan. Mereka juga belajar satu hal : “Bersyukurlah dan berbesar hatilah setiap kali mendengar keberhasilan orang lain. Sekecil apapun. Sebesar apapun”.

Sumber: http://saungku.blogdetik.com